Ditulis pada 29 Maret 2017 di Rumahku
Hari raya Nyepi yang bertepatan pada tahun baru Caka (kalender Caka) di pulau Bali merupakan salah satu ikon yang bisa menjadi identitas pulau Bali di mata Dunia. Keunikan dari hari raya ini membuat banyak touris datang ke Bali untuk melihat kesunyian. Aneh sekali bukan, biasanya tempat wisata yang tipikal ramai dan banyak orang, tapi untuk ini kesunyian yang menjadi destinasinya. Wisatawan yang cenderung jalan-jalan adalah tujuan kedatangannya, ini justru hanya diam di suatu ruangan hotel, maupun villa. Itu dikarenakan hari raya Nyepi ini tidak diperkenankan siapapun untuk keluar dari rumah, hingga pergi ke jalanan. Selain itu, menyalakan lampu dan membuat keributan dari aktivitas manusia tidak diperbolehkan juga. Maka tidak heran jika saluran televisi baik lokal maupun nasional juga di-nonaktifkan. Tidak ada tuntutan atau sikap keberatan dari penduduk lokal dengan aturan ini, dan justru banyak yang menilai hal ini adalah sikap positif dalam melestarikan budaya Bali.
Dengan adanya aturan daerah Bali itu, maka tidak mengherankan pulau Bali yang ramai akan aktivitas penduduk lokal maupun mancanegara mendadak sepi. Sebuah bandar udara juga tidak beroprasi. Seperti tidak ada kehidupan manusia di pulau Bali, selain para binatang yang berkeliaran dan saling bersautan. Para manusia seakan menghilang tiba-tiba, karena malam sebelum hari raya Nyepi disebut dengan “Pangerupukan” terdapat banyak orang keluar kejalanan. Pangerupukan adalah sebuah ritual menetralisir aura negatif yang ada di Pulau Bali dengan cara melakukan pawai “ogoh-ogoh” yang meriuhkan di setiap geografis pulau Bali.
Sekerdar informasi, ogoh-ogoh merupakan sebuah benda berbentuk patung besar yang terbuat dari kayu, dan rajutan dari bambu. Selain terbuat dari bahan-bahan itu, sekarang sudah mulai menggunakan styrofoam dalam pembuatannya. Itu merupakan perkembangan dari pembuatan ogoh-ogoh dan dapat mempermudah proses pembuatannya. Ogoh-ogoh akan diarak beramai-ramai mengelilingi desa dengan disertai sebuah obor, tari-tarian, dan gamelan Baleganjur. (lupa kutip di mana)
Pada malam Pangerupukan itu menjadi ramai dan banyak suara gamelan Baleganjur yang memenuhi disetiap tempat. Sebabnya masing-masing banjar (dusun) membawa satu buah ansambel Baleganjur yang dimainkan oleh minimal 20 orang musisi muda. Musisi tersebut bermain dengan semangat dan dinamis, karena karakter dari baleganjur cenderung memberikan penyemangat atau power dalam menjalankan sebuah prosesi. Dengan adanya gamelan ini sebuah prosesi akan terasa lebih hidup dan memiliki religius yang mencerminkan budaya Bali.
Beberapa tahun yang lalu terdapat viral tentang bergesernya penggunaan jenis musik untuk mengiringi ogoh-ogoh. Beberapa orang tidak lagi menggunakan gamelan Baleganjur, tapi menggunakan soundsystem yang menghidupkan musik Pop, DJ, Rock, dsb. Kecaman dengan sikap itu menjadi pokok bincangan di kalangan budayawan, nitizen, dan tokoh pemerintahan. Hal itu dianggap telah menyimpang dari adat dan budaya Bali. Ogoh-ogoh biasanya indektik dengan gamelan Baleganjur, justru diiringi dengan musik modern melalui soundsystem yang diarak bersama ogoh-ogoh. Ide kreatif dari pelaku tersebut, mereka menggunakan genzet sebagai sumber energi untuk menghidupkan soundsystem. Suara musik tersebut diatur sangat keras hingga mengalahkan kerasnya suara gamelan disekelilingnya. Sehingga tidak berjelang lama dari fenomena tersebut, banyak opini yang mengatakan hal itu harus ada solusinya dan ada larangan untuk kedepannya tidak menggunakan musik selain gamelan Bali.
Tindakan dalam menanggulangi fenomena tersebut membuahkan hasil yang positif pada tahun ini (kalender Caka 1939/kalender Gregorian 2017). Penggunaan soundsystem untuk mengiringi ogoh-ogoh tidak lagi dilakukan oleh masyarakat. Kesadaran mulai muncul dibenak mereka, dan kembali menggunakan gamelan Baleganjur sebagai indentitas ritual ini. Namun sebagai catatan mungkin masih ada beberapa kelompok masih menggunakan soundsystem, tapi hal itu hanya satu atau dua orang saja. Berbeda dengan tahun sebelumnya, hampir di setiap desa terdapat ogoh-ogoh dengan diiringi soundsystem. Sehingga tahun ini merupakan tahun yang mengembirakan untuk gamelan Baleganjur sebagai populer dalam menyambut hari raya Nyepi tahun caka 1939.
Gamelan Baleganjur yang terdiri dari 2 instrumen Kendang, 8-10 instrumen Cengceng, 1 intrumen Kajar, 1 instrumen Kempli, 4-10 instrumen Riong, 2 instrumen Ponggang, 2 instrumen Gong, 1 instrumen Kempur, dan 1 instrumen Bende, berhasil menjadi instrumen yang paling berperan untuk menyambut hari raya Nyepi. Sebab beberapa tahun yang lalu hingga kini, para seniman maupun komposer mulai mengembangkan dari ansambel Baleganjur. Mulai dari pengembangan musikalitas, visualitas, hingga terdapat penambahan alat-alat/instrumen baru dari ansambel gamelan lainnya. Seperti Kentongan dari gamelan Tektekan, instrumen Jublag dari gamelan Gong Kebyar, instrumen Suling, dsb.
Suara dengungan gamelan Baleganjur selalu ada disetiap banjar (dusun) yang ada di Bali. Para pemuda yang memainkan gamelan itu sudah mulai latihan 2 hingga 3 bulan sebelum hari Pangerupukan dilakukan. Sehingga hampir setiap hari terdengar suara gamelan Baleganjur di Bali untuk persiapan mengiringi ogoh-ogoh, dan upacara Melasti (ritual penyucian yang dilakukan pergi ke Pantai).
Sebelumnya perlu diketahui, pada 2-3 bulan menjelang Nyepi para musisi gamelan Bali memiliki aktivitas yang sangat padat. Mereka selalu memiliki schedule setiap malam untuk latihan Balebanjur, yakni latihan Baleganjur yang dilakukan di pura-nya masing-masing untuk persiapan Melasti , dan latihan Baleganjur yang dilakukan di Banjar-nya masing-masing untuk Pangerupukan. Maka saat menjelang Nyepi, acara atau aktivitas dari musisi gamelan Bali tidak perlu ditanyakan lagi. Mereka sangat sangat sibuk pada bulan-bulan itu.
Pada bulan itulah juga banyak bermunculan para komposer-komposer muda baru yang memiliki pontensi berbakat. Banyak grup Baleganjur akan membutuhkan guru maupun komposer untuk grupnya. Para musisi muda kalangan SMA hingga kuliah mulai menginjakan kaki dalam menciptakan lagu pada gamelan Baleganjur. Mereka mulai belajar berkomposisi melalui gamelan ini, berawal dari komposisi yang sederhana (simple) hingga memiliki kompleksitas yang cukup banyak dari karyanya. Tergantung dari imajinasi, kemampuan, dan kebutuhan dari komponis muda tersebut. Tahapan yang sering dilakukan adalah mencoba-coba (eksperimen) untuk pencarian jati diri tahap awal bersama para musisi yang juga memiliki virtuositas baru belajar. Artinya para komponis muda ini tidak akan terlalu canggung untuk belajar berkomposisi di hadapan para musisi yang juga baru belajar memainkan gamelan. Sehingga komponis ini memiliki kepercayaan diri untuk memulai langkah awal berkomposisinya.
Sebagai contohnya adalah diri saya sendiri. Walaupun hingga sekarang saya belum mahir dalam berkomposisi, tapi langkah awal saya berkomposisi yakni pada saat mengajar gamelan Baleganjur untuk Nyepi juga. Pada awalnya saya sedikit takut untuk memulainya, namun dengan nekat saya optimis bisa melakukannya. Prinsip saya adalah mencoba dan sama-sama belajar. Saya belajar berkomposisi, dan kebetulan musisi yang saja ajar adalah musisi baru juga untuk memainkan gamelan. Jadi saya sedikit yakin karena kemampuan saya dalam berkomposisi tidak akan membuat musisi bosan untuk menerima karya saya. Lain halnya jika dibandingkan jika komponis muda yang akan mengajar seorang musisi yang sangat mahir, tentu saja aka nada sifat grogi atau malu dalam diri komponis tersebut. Beruntung sekali jika situasi pada saat menjelang nyepi ini ada banyak grup gamelan Baleganjur yang mencari komposer dan kesempatan itu dimanfaatkan untuk membuka pintu menjadi seorang komponis.
Hal tersebut bukan berarti musik populer menjelang Nyepi (gamelan Baleganjur) dan bersama dengan grupnya merupakan bahan percobaan untuk para komponis muda. Musisi itu tidak sepantasnya melecehkan atau memandang rendah komponis baru, hingga membuat mereka tidak senang membawakan lagu yang dibuat oleh komponis baru tersebut. Sebaliknya, mereka seharusnya perlu berbangga, karena karya musik yang dibuat oleh komponis baru tersebut merupakan karya yang betul-betul menjadi pemikiran kerasnya. Karya itu adalah karya pertamanya, tentu saja komponis itu tidak akan membuatnya dengan “asal-asalan”. Dia betul-betul berpikir dan merancang karya tersebut jauh sebelumnya. Berbeda dengan para komponis yang sudah mahir, tentu pengalamannya dalam berkomposisi tidak menjadi beban dalam menyusun sebuah karya. Maka para komponis muda dibandingkan komponis yang sudah lebih awal menginjakan kaki untuk berkomposisi, cenderung komponis muda memiliki aura musikal yang lebih segar dan terdapat ide-ide baru dalam karyanya. Tingkat imajinasi komponis muda cukup banyak, karena jika mereka peka dengan apa yang dalam dirinya, mereka akan memiliki jutaan ide yang belum pernah mereka keluarkan. Itulah yang terjadi pada bulan-bulan tersebut, banyak ide yang bertebaran dari komponis muda.
Bisa dibayangkan berapa jumlah karya-karya musik untuk gamelan Baleganjur dilahirkan pada menjelang Nyepi tersebut? Jujur saja saya sendiri tidak bisa menghitungnya, karena banyak sekali grup gamelan Baleganjur yang berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik dari grup lainnya. Mereka beradu keahlian dan kekompakan dalam membawakan sebuah lagu, serta saling berlomba karya musik juga. Para musisi dengan percaya diri bermain gamelan, jika mereka anggap karya musiknya bagus dan menarik ketimbang grup lainnya. Semangat dan totalitas biasa terjadi dalam fenomena ini. Walaupun terkadang tidak ada imbalan atau bayaran yang akan mereka dapat, tapi mereka akan merasa puas jika bisa pentas dengan baik dihadapan orang banyak. Apalagi merasa grupnya yang terbaik, tentu bayaran seberapa banyakpun tidak akan berarti dibandingkan kepuasan batin mereka.
Para grup gamelan Baleganjur membawakan satu komposisi baru andalan mereka, dan terdapat puluhan grup lainnya di satu desa, serta ratusan hingga ribuan grup Baleganjur yang ada di Bali membawakan minimal 1 karya Baleganjur. Jika semua grup gamelan Baleganjur menciptakan komposisi baru untuk hari Pangerupukan, bisa diartikan ada ribuan ide dan komposisi tercipta setiap tahunya. Namun ironisnya tidak semuanya memperdulikan lagu yang mereka buat untuk didokumentasikan, dan hanya dimainkan untuk hari Pangerupukan saja. Setelah itu karya tersebut menghilang begitu saja.
Jadi Gamelan Baleganjur pada saat itu menjadi gamelan populer untuk memenuhi dan menjadi media ungkap dari jutaan ide komposer Bali. Jika diteliti disetiap pelosok daerah di Bali pada saat itu, suara dan gamelan yang sering ditemukan adalah gamelan Baleganjur. Setiap Banjar, dan Pura menyiapkan para musisinya untuk mempelajari Baleganjur. Baleganjur menjadi topik dan trand musik Bali mulai bulan Januari hingga Maret. Setelah itu gamelan Baleganjur behenti sejenak digunakan, dan kembali beralih ke gamelan lainnya menurut kebutuhan masing-masing grup gamelan. Maka pertanyaannya, mengapa semua musisi Bali lebih banyak menggunakan gamelan Baleganjur untuk menyambut Nyepi?.
Semoga kedepannya musisi muda dan komponis muda Bali lebih kreatif lagi dan tetap semangat menjalani aktivitas ketika menyambut Nyepi. Imbangi kesibukan bermusik dengan kesehatan jasmani dan rohani.
*Pikiranku pada saat itu. Saat ini sudah berubah? Semoga selalu berubah dan berkembang.
(Tulisan ini masih menggunakan tata cara menulisku dulu dan belum dikoreksi dengan situasiku kini. Jadi, ini akan dan perlu dikoreksi lagi oleh penulis. Salam)