Ditulis pada 31 Januari 2019 di Bali
Pada akhir-akhir ini, kelompok penabuh wanita menjadi sorotan masyarakat karena mampu memainkan gamelan dengan lincah dan cepat layaknya laki-laki. Hal itu menyebabkan masyarakat umum memberikan apresiasi dan heran ketika melihat wanita bermain gamelan daripada laki-laki. Maka dengan adanya fenomena itu, menarik perhatian saya untuk membahas apa yang menyebabkan hal itu tumbuh di masyarakat, melalui tinjaun peristiwa dulu dan kini.
Laki-laki dan Perempuan Bali Dahulu
Apabila bercermin ke kehidupan Bali pada abad ke-19 dan 20, masyarakat Bali memiliki tradisi dan kebudayaan yang mengatur kehidupannya sehari-hari. Misalnya cara mereka membagi pekerjaan, antara laki-laki memiliki pekerjaan yang tergolong berat dan perempuan pekerjaannya tergolong lebih ringan. Walaupun demikian, perempuan Bali memiliki kemampuan yang luar biasa. Misalnya, ketika Ia membawa barang dagangannya yang seberat puluhan kilo dan diletakan di atas kepalanya.
Menurut Miguel Covarrubias dalam bukunya Pulau Bali Temuan yang Menakjubkan, menyatakan pembagian pekerjaan pada masing-masing jenis kelamin sudah ditentukan secara tajam, yakni membangun atau kuli bangunan, dan memanjat pohon merupakan pekerajaan laki-laki, sedangkan perempuan memiliki pekerjaan yang lebih ringan, seperti berjualan, memelihara dan menjual ayam (2013: 86-87). Alhasil, antara laki-laki dan perempuan akan memiliki penghasilan yang berbeda-beda, dan kaum perempuan berhak mendapatkan hasil atau upah dari suaminya maupun dari jerih payahnya sendiri.
Tugasnya Dalam Bekesenian
Apabila dilihat dalam bidang kesenimanan, Covarrubias menyatakan seorang kuli dan pangeran, pendeta dan petani, lelaki dan perempuan dapat menari dan memainkan alat musik (2013:164), namun hal itu jarang dijumpai. Salah satu faktornya adalah kedua jenis kelamin tersebut sudah ditentukan tugasnya secara tradisi dan turun-temurun. Sebab masyarakat Bali sangat lekat dengan ritual keagamaan yang membutuhkan kesenian sebagai salah satu pokok dalam keberlangsungan suatu upacara. Oleh dari itu masyarakat Bali tidak jarang yang berprofesi sebagai seorang seniman, namun tetap diatur melalui pembagian tugasnya. Misalnya melukis, memahat, dan memainkan alat musik adalah seni yang disediakan atau dilakukan oleh kaum laki-laki, sedangkan aktivitas artistik para wanita adalah membuat sesaji yang indah bagi para Dewa (Covarrubias, 2013 : 165). Contohnya adalah membuat banten atau sesaji dengan memotong-motong daun dengan berbagai bentuk seperti ukiran, dan mengolah atau membentuk jajan maupun buah menyerupai tumpeng atau gunung.
Faktor lain yang pernah dikatakan oleh para pemikir gamelan adalah adanya faktor pertumbuhan tubuh seorag perempuan. Faktanya terdapat pada gamelan sakral Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur, Kintamani. Ketika saya ngayah (bermain gamelan dengan tulus iklas) bersama Institut Seni Denpasar sekitar 3 tahun lalu, menghimbau perempuan dilarang memasuki dan memainkan gamelan yang terdapat di Bale Gong. Salah satu alasan yang dikatakan oleh dosen saya adalah kaum perempuan sering mengalami datang bulan. Menyadarinya juga, apabila seorang wanita mengalami datang bulan dilarang masuk ke area pura. Dengan alasan itu, para wanita akan berhalangan hadir sekiranya selama 4-7 hari setiap bulannya. Hal itu mungkin dianggap akan mengganggu keberlangsungan pementasan gamelan ketika dibutuhkan.
Namun, bagaimana dengan sekelompok penari yang mayoritas adalah perempuan? Apakah hal itu sama artinya dengan penabuh yang perempuan? Apakah tidak bisa mencarikan penabuh gamelan perempuan dengan jumlah banyak atau ikut bergabung dengan laki-laki dalam bermain? Padahal satu atau dua orang wanita apabila tidak hadir, tidak akan mengganggu pertunjukan. Menurut saya, alasan ini merupakan salah satu alasan yang dulunya masih terkait dengan faktor lainnya, seperti tradisi laki-laki dan perempuan memiliki tugas yang berbeda dalam berkesenian. Apabila pembagian tugas dari dualitas tersebut dilanggar, mengakibatkan salah satu pihak akan merasa terhina dan malu (Covarrubias, 2013:86).
Berbeda halnya pada pihak laki-laki, sejak dulu telah diwajibkan mampu memainkan gamelan. Seperti yang dinyatakan pada Niti Sastra; sastra Bali kuno, bahwa seorang laki-laki yang acuh tak acuh mengenal tulisan adalah seperti seseorang yang kehilangan kemampuan bicaranya, sebab dia akan selalu diam selama perbincangan dengan orang lain. Terlebih lagi merupakan syarat bagi pendidikan seorang pangeran agar mengetahui dan belajar metologi, sejarah, memahat kayu, bermain maupun membuat alat musik (Covarrubias, 2013:166). Itu sebabnya para pangeran dahulunya mampu bermain gamelan, dan terdapat gamelan pada kerajaannya.
Pemain gamelan tidak hanya harus dari keturunan bangsawan, namun mayoritas adalah masyarakat biasa. Mereka bermain gamelan dengan harapan bisa menjadi seniman mumpuni seperti para bangsawan atau pangerannya, walaupun pekerjaannya sehari-hari adalah petani dan kuli bangunan (Covarrubias, 2013:166). Sebab para raja akan memfasilitasi seseorang yang ahli dalam bidang kesenian.
Alhasil, perbedaan perempuan dan laki-laki dahulu memiliki porsinya masing-masing dalam pekerjaan maupun berkesenian. Misalnya, laki-laki memiliki keistimewaan ketika bermain gamelan. Sebab para bangsawan atau pangeran bersifat lebih demokratif ketika bermain gamelan (Covarrubias, 2013:166). Artinya pemikiran akan kedudukan bangsawan lebih tinggi ketimbang rakyat biasa, tidak begitu berlaku ketika duduk bermain gamelan.
Penabuh Gamelan Perempuan Kini
Beberapa dekade belakangan ini, dunia gamelan sudah mulai banyak diwarnai dengan munculnya penabuh hingga komposer gamelan wanita yang tampil memainkan gamelan layaknya laki-laki. Itu dimulai semenjak adanya pendapat yang memperjuangkan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Salah satu tokoh pejuang wanita yang terkenal di Indonesia adalah R.A. Kartini atau dikenal dengan Ibu Kita Kartini.
Maka hal itu mungkin saja menjadi salah satu faktor yang dapat merubah pola pikir masyarakat Bali dalam kesetaraan ketika bermain gamelan. Akibatnya, tradisi yang berkembang dulu di Bali mulai tidak berlaku lagi dan menumbuhkan rasa cinta perempuan untuk menaruh hidupnya yang berfokus pada gamelan Bali.
Dengan adanya seorang pelopor penabuh perempuan juga mempengaruhi lahirnya penabuh perempuan lainnya. Beberapa tokoh perempuan yang saya kenal dan paling produktif dalam dunia gamelan adalah Ni Ketut Suryatini dan Desak Ketut Suarti Laksmi. Beliau adalah seorang Dosen Karawitan di ISI Denpasar dan juga lulusan Jurusan Karawitan di ISI Denpasar.
Selain itu, adanya lomba dan festival yang fokus pada kelompok perempuan sangat mempengaruhi daya tarik mereka untuk belajar gamelan. Misalnya mulai belajar bermain Gender Wayang. Gamelan itu memiliki penabuh perempuan dengan kemampuan yang sangat bagus, karena instrumen ini tidak membutuhkan tenaga yang besar dalam memukulnya, layaknya gamelan Gong Kebyar. Namun yang terpenting adalah kecepatan dan kelenturan tangan.
Selebihnya, apabila ditinjau dari kekuatan fisik, memang dari hormon laki-laki dan perempuan terdapat perbedaan. Menurut dr. Hendry Wijaya menyatakan, “laki-laki pada umumnya mampu menghasilkan kekuatan dan kecepatan yang lebih besar dibandingkan perempuan karena memiliki massa otot yang lebih besar. Laki-laki dan perempuan memiliki jumlah serabut otot yang sama, namun pria secara natural memang memiliki tingkat hormon testosteron yang lebih tinggi, sehingga menghasilkan ukuran serat otot yang lebih besar.” (baca: apakah itu benar?)
Melihat pernyataan di atas, secara fisik memang tenaga wanita dinyatakan lebih lemah, namun kini penabuh gamelan perempuan sudah mampu memainkan gamelan hampir layaknya laki-laki. Contohnya adalah berbagai kelompok penabuh perempuan yang tampil di setiap tahunnya pada ajang Parade Gong Kebyar Wanita antar kabupaten di Bali, berhasil menampilkan karya gamelan dengan kecepatan dan keapikan yang sama dengan laki-laki. Alhasil itu merupakan salah satu bukti bahwa kekuatan fisik bukan lagi menjadi suatu hal yang krusial, apabila sudah rajin melatihnya.
Tantangan Ke Depan
Menurut saya, fenomena gender atau jenis kelamin, orang lokal dan asing, maupun muda dan tua, bukan sebuah masalah yang dapat memisahkan dan membedakan taksu (konsep daya tarik spritualis ketika berkesenian di Bali) ketika bermain gamelan. Alasannya, menurut I Wayan Dibia dalam bukunya Taksu Dalam Seni dan Kehidupan di Bali, menyatakan kekuatan taksu dapat diperoleh dan didapat oleh semua orang, tanpa memandang batas usia, status sosial, dan jenis kelamin (2012:46).
Maka tantangan ke depannya adalah bagaimana kita bisa melihat perbedaan itu menjadi suatu yang memiliki keseimbangan dan tanpa tumpang tindih. Itu diartikan, tidak lagi ada pembatasan antara perempuan dan laki-laki, yang mengakibatkan laki-laki lebih pintar dari perempuan, ataupun perempuan lebih spesial daripada laki-laki. Alasannya, ketika sudah berusaha dan peduli dalam kemajuan gamelan, tentu akan mendapatkan hasil dan apresiasi yang baik.
Akhir kata, gamelan tidak lagi merupakan sebuah kotak yang dibatasi oleh beberapa sudut pandang dan tradisi maupun budaya saja, namun kini sudah bersifat universal dan menyatukan perbedaan di dalamnya.
Sumber Bacaan
Dibia, I Wayan. 2012. Taksu Dalam Seni dan Kehidupan Bali. Denpasar: Bali Mangsi Foundation
Covarrubias, Miguel. 2013. Pulau Bali Temuan yang Menakjubkan. Denpasar: Udayana University Press.
https://hellosehat.com/pusat-kesehatan/olahraga-lari__trashed/pria-lari-cepat-daripada- wanita/