Membeli Buku di ISI Yogyakarta

Ditulis pada 18 Oktober 2018 di Yogyakarta

Pada pagi hari saya sudah datang menuju depan perpustakaan ISI Yogyakarta, dan melihat dua penjual buku seni budaya yang memajangkan barang dagangannya. Satu menempatkan bukunya dengan beralaskan kain saja dan satunya menempatkan bukunya di mobil pick up. Keduanya memiliki banyak buku, seperti perpustakaan berjalan.

Saya jadi ingat ketika masih di bangku sekolah dasar, biasanya di depan sekolah akan terdapat perpustakaan keliling yang menawarkan buku-buku soal, seperti lembar kerja siswa pada saat itu berharga kisaran dua ribu hingga sepuluh ribu rupiah.

Dengan demikian, para pedagang memanfaatkan lembaga pendidikan sebagai ajang untuk meraih rupiah dengan menyediakan buku yang sesuai dengan jurusan pada ISI Yogayakarta. Seperti musik, tari, karawitan, pedalangan, etnomusikologi, seni rupa, dan sebagainya.

Pada pagi itu, saya memang tidak ada tujuan pasti untuk mencari judul buku, namun hanya ingin melihat buku-buku apa yang belum saya ketahui. Sebab, dengan mengetahui jenis buku apa saja yang sudah ada, akan dapat membuka pikiran dan wawasan. Walaupun belum membaca isinya secarta lengkap.

Saya melihat beberapa buku musik yang sudah saya miliki, namun beberapa masih belum saya punyai. Terdapat tiga jenis buku yang menarik perhatian saya, pertama buku yang berjudul Kondakting Analisis Simfoni Kelima Beethoven, kedua Interaksionisme Simbolik, dan ketiga Made Bandem yang Ngebyar. Dengan uang yang pas-pasan, saya hanya dapat membeli dua buku saja, yakni buku pertama dan kedua. Padahal kalau di Bali tinggal bersama orang tua, saya tidak pernah menunda pikiran untuk membeli buku. Uang untuk jajan satu bulan pernah habis selama sehari untuk membeli buku. Akibatnya, saya tidak bisa membeli sesuai yang memanjakan diri saya di luar rumah. Apabila kepepet, biasanya saya meminjam uang dari teman sekelas dulu. Namun kini situasi berbeda, saya berada jauh dari orang tua yang biasanya menyiapkan makanan di rumah.

Alasan saya membeli buku tentang kondakting adalah mengingat kini gencarnya penggunaa seorang pengaba pada gamelan Bali. Berharap dengan membacanya dapat menemukan bagaimana sebenarnya esensi dari seorang pengaba pada musik simfoni. Selain itu, simfoni kelima dari Beethoven merupakan lagu favorit saya, hingga nada dering ponsel saya menggunakan lagu itu.

Kondakting simfoni kelima dari Beethoven memang sering digunakan sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa musik. Sumbernya adalah teman saya bernama Zachary Henjy dari California, Amerika Serikat yang dulunya belajar komposisi musik di Universitas Santa Barbara dan beberapa mata kuliah tentang kontakting. Ia mengatakan bahwa ujian akhir dari mata kuliahnya adalah bisa sebagai pengaba yang baik dari lagu tersebut. Sebab, di dalamnya memang terdapat permainan off beats dari instrumen, namun pengaba harus tetap pada temponya. Maka tempo itu akan sebagai pegangan para musisi, dan untuk memberikan aba-aba sebelum salah satu instrumen mulai bermain. Kata Zach, ketepatan pemberian aba-aba dan mempertahankan tempo penting di pelajari secara terus menerus dengan menggunakan lagu ini. Sebagai contohnya adalah pengaba idola saya dan Zach adalah Gustavo Dudamel yang sangat cekatan dalam memimpin lagu tersebut.

Buku selanjutnya adalah tentang Semiotik. Harapan saya buku ini dapat menjawab kegelisahan saya dengan ilmu tentang pertanda pada karya seni. Sebab, karya seni atau musik sudah memberikan pesannya melalui unsur-unsurnya, bukan sebaliknya didominasi dengan omongan atau bahasa verbal.

Leave a comment

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close