Ditulis pada 19 Oktober 2018 di Yogyakarta
Sepulang bekeliling di Jalan Malioboro sekitar pukul 20.00, saya berencana untuk datang ke Etnictro lagi. Saya masih ingin tahu tentang hasil yang terjadi setelah robot itu diisi dengan bilah gender. Dengan menikmati tempe goreng, saya menghubungi Mas Tony untuk mengetahui apakah masih mengerjakan alat itu di Etnictro. Sekitar 5 menit menunggu, akhirnya ada balasan. Namun sayang sekali, saya terlambat. Mas Tony dan teman-temannya sudah menyelesaikan pekerjaannya dan segera pulang. Ia pun menyarankan saya untuk mendatanginya besok sore.
Saya pun menghubungi Bli Gus Hery dan menanyakan keberadaannya. Sejujurnya saya belum ingin pulang ke kontrakan. Kebetulan Bli Gus Hery sedang berada di Alun-alun Cafe, sebelah timur taman Alun-alun Kidul. Saya pun bergegas datang ke tempat itu, dengan mengikuti petunjuk google map.
Sampai di tempat itu, saya juga bertemu dengan Mas Hardi dari Aceh, Sumatra Utara. Ternyata ia adalah si pemilik kedai dan sekaligus teman sekelas Bli Janu di Program Pasca Sarjana ISI Yogyakarta. Saya pun duduk di kursi sebelahnya, dan segera memesan Karo Milk Tea. Alasannya adalah selain kopi akan membuat perut saya sakit, juga minuman itu memiliki harga termurah. Ha Ha Ha.. Minuman itu mendatangkan serbuk teh langsung dari Karo, Sumatra Utara.
Saya melihat Mas Hardi meracik minuman untuk saya. Saya pun betanya, “Sudah berapa lama diam di Jogja, Mas?” Ia menjawab “Hmhmhm.. kayaknya bersamaan dengan Janu datangnya”.
“Lalu, hingga kini sudah bisa membuat kedai kopi seperti ini” Tanya saya.
“Hehe.. Iya pelan-pelan lah, sambil kuliah” Jawabnya.
Di dalam hati saya mengatakan “hebat bener ini orang, bisa mengatur waktu kuliah dan kerjaannya”.
Saya pun menikmati minuman teh asal taro dicampur susu itu. Memang rasanya berbeda dengan “lon teh” yang biasa saya beli di warung-warung. Susunya sangat terasa di lidah, dan tehnya baru kerasa di tenggorokan saya. Bagaikan industri pada dunia musik, memilih dan menentukan jenis musiknya tergantung penikmatnya. Sambil menikmati teh, saya mendengar alunan musik jazz di speaker kecil milik Mas Hardi.
Dengan niat membuat topik pembicaraan, sayapun mengarahkan pertanyaan pembicaraan tentang musik jazz.
Membicarakan Musik Jazz
Pertama, saya menceritakan tentang diskusi Lecture Concert pada acara October Meeting. Saya pun curhat kepada Mas Hardi tentang masalah improvisasi dan penggabungan bahasa musikal yang berbeda pada musik jazz. Tujuannya adalah saya ingin mengetahui perspektif masing-masing orang tentang hal yang saya dapatkan ketika diskusi itu.
Mas Hardi mengatakan bahwa improvisasi itu memiliki cara yang berbeda-beda. Mungkin saja cara Mas Jeko (narasumber pada acara Lecture Concert) berbeda dengan cara Indra Lesmana misalnya. Ia menegaskan bahwa improvisasi itu harus saling mendukung instrumen atau musisi satu dengan yang lainnya. Itu bertujuan untuk adanya call dan response yang dapat menghidupkan suasana permainan. Mas Hardi pun memberikan beberapa contoh improvisasi melalui musik yang ia hidupkan melalui smartphone miliknya.
Menurut Mas Hardi, salah satu komposisi musik jazz memiliki beberapa kesepakatan motif yang akan dimainkan secara tetap. Misalnya terdapat pada awal dan akhir lagu. Itu diibaratkan sebagai pembuka dan penutup mood atau perasaan pada sebuah lagu. “Yang jelas, kita memiliki tema yang akan mengarahkan jalan musik kita” Sebutnya.
Ia juga mengatakan, bahwa improvisasi dalam musik jazz sama halnya dengan beberapa orang yang saling berbicara atau berdiskusi. Pembicaraannya tentu memiliki sebuah topik yang akan mengarahkan opini masing-masing individu. Alhasil, alur musikalnya akan nampak jelas dan tidak keluar jauh dari tema musiknya. Sama seperti ketika bahasa musiknya berbeda, tentu kita akan menyamakan perspektif dulu tentang apa yang akan dimainkan. Sama seperti album yang bertajuk Two World dari grup musik Krakatau yang di dalamnya tergabung pianis Indra Lesmana.
Karya-karyanya menggunakan alat musik tradisional, seperti alat tiup Sunda (maaf lupa namanya), dan kendang campur sari. Perpaduan dua bahasa musikal yang dianggap sebagai dua dunia (two world), dikolaborasikann dengan apik dengan menggunakan struktur musik jazz.
Adanya karya itu, kembali menyadarkan saya tentang kelebihan bahasa musikal yang tidak seperti bahasa verbal. Bahasa musikal sungguh universal!!!
Gitaris Favorit
Seorang gitaris dalam musik jazz memang wajib memiliki kemampuan lebih dalam bermain inprovisasi. Ia melatih spontanitas pikiran dan tangannya dalam memainkan ide musikal. Seperti yang dikatakan oleh Mas Jeko, seorang “improvisasier” sebaiknya bisa menyanyikan hal yang akan dimainkan ke instrumen. Minimal bisa menyanyikannya di dalam hati.
Menurut Mas Hardi, gitaris terfavoritnya dalam bermain jazz adalah Dewa Budjana. Baginya, Budjana memiliki kemanupuan lebih yang tidak dimiliki oleh orang lain. “Rasa dia gak ada sama yang lain. Dia kemanapun, aroma, nuansa hindu itu terasa” Sebut Mas Hardi.
Budjana memang seorang legendaris dalam hal bermain gitar. Ia telah memiliki banyak pengalaman bermain, seperti pernah tergabung bersama grup musik terkenal bernama Gigi. Karirnya memasuki ranah populer sempat membawa namanya melambung tinggi dan tentu juga dengan kemampuannya yang spesial.
Bagi Mas Hardi, apabila Budjana bermain improvisasi, selalu terdapat kejutan baru dan tidak sama. “Setiap ada karya baru atau pentas di berbagai tempat, ia pasti bermain berbeda lagi. Ada hal baru” Ujar Mas Hardi.
“Berbeda halnya dengan gitaris lainnya, nonton pertama ya “wahh”, kedua udah biasa aja, dan ketiga, udah, ternyata gini terus.” Tambah Mas Hardi.
Menurut Mas Hardi, apabila bermain musik jazz bukan sekedar bermain improvisasi saja, tapi juga melatih kemampuan musikalitas, karena musisi dituntut untuk bermain bebas dalam sebuah batasan musikal. Seperti tempo, bar, harmoni, dan tema.
“Jadi, ketika bermain improvisasi bukan sekedar bebas dan menunjukan kepiawaian bermain gitar. Terkadang aku melihat (baca: analogikan) fenomena seperti itu bukan “bermain musik” lagi, tapi hanya sebuah akrobat saja.” Ujar Mas Heri sambil ketawa.
Sekitar 3 jam berlalu, dan Karo Milk Tea ku sudah habis. Saya dan Bli Gus Hery bergegas pulang dan membantu Mas Hardi merapikan barang dagangannya. Percakapan santai ini, bukanlah percakapan akademis yang kebenarannya sudah terbukti. Itu hanya sebuah opini yang memang lahir dari dalam diri, dan apabila perdalami lagi, tentu banyak kesenjangan. Namun bagiku percakapan apapun itu, penting atau tidak, perlu untuk didokumentasikan. Sebagian besar, wawasan memang hadir dari pergaulan, pengalaman, dan berdiskusi.
Semoga bermanfaat. Maafkan.