Montreal, 22 Mei 2020
Pagi itu (25/09/19) merupakan pagi yang penuh dengan dilema dan semangat, sebab pada malam harinya aku akan pergi meninggalkan Indonesia untuk menempuh studi di Université de Montréal, Kanada.
Aku menatap seisi rumahku dengan penuh rasa rindu yang akan ku tinggalkan entah sampai kapan. Ini merupakan perjalanan terlama ku meninggal rumah, keluarga, teman, dan musik yang ada di Bali. Namun, aku juga tidak sabar untuk melihat indahnya belahan lain dunia ini.
Pagi itu, aku ditemati pacarku sibuk menyiapkan barang-barangku yang belum beres. Yang terpenting bagiku pada saat itu adalah aku tidak lupa membawa dokumen-dokumen untuk imigrasi dan sekolah, baju adat Bali untuk pementasan gamelan, serta beberapa buku yang sekiranya aku bisa temui di sana.
Hingga siang hari persiapanku tak kunjung selesai. Koper yang sudah diisi dengan berbagai macam barang, ternyata melebihi batas berat yang telah ditentukan maskapai penerbanganku. Sehingga itu mengharuskan ku untuk mengungari isi atau membaginya ke tasku yang lain. Namun Tas ransel yang aku rencakan untuk tempat baju-bajuku ternyata tidak mampu menampung sisanya. Aku merasa tidak efektif apabila membawa 1 tas rensel yang akan dimasukan ke bagasi namun tidak berisi cukup banyak.
Di bayangkan kala itu adalah antara membawa dua koper atau ransel yang isinya sesuai harapanku, atau hanya membawa hanya satu koper saja. Lalu ayahku langsung berinisiatif untuk membeli 1 koper lagi di supermarket di dekat rumahku.
Sekitar 2 jam berlalu, ayahku pun datang. Lalu aku langsung memasuki barang-barangku ke dalam koper itu. Dengan alat penimbangan badan tua milik ku, aku mengukur berat kedua koperku. Sedikit lega rasanya ketika kedua koperku tidak lagi melewati berat maksimum dari maskapai. Namun, aku masih merasa takut jika hasilnya akan berbeda dengan alat timbang di bandara.
Setelah semuanya selesai, aku duduk diam di bale dadia (balai sebelah utara) dimana aku menempatkan gamelan-gamelanku. Tempat itu akan menjadi tempat yang paling aku rindukan, Di sana biasanya menjadi tempatku melahirkan berbagai karya musik bersama sanggar gamelan miliku Naradha Gita.
Tak berselang lama, teman-teman musisiku datang ke rumah. Lalu kami bermain gamelan bersama selama beberapa menit. Ketika itu, tiba-tiba salah satu dari mereka bertanya kepadaku;
“Apa yang akan berubah setelah kamu datang dari Kanada?” (Pertanyaan yang aku akan jawab nanti ketika waktu itu tiba)
Aku hanya menjawabnya dengan harapan kelak nanti ketika aku pulang, aku bisa lebih berkembang, mendapatkan pengetahuan baru, dan tetap rendah hati.
Dalam hatiku lanjut berkata;
“Apakah aku sudah siap untuk menerima pengetahuan musik dan budaya baru?”
Dua kata yang membuat ku yakin adalah “berusaha” dan “berdoa”. Sebab bagi ku, tantangan itu adalah hal yang akan membuat ku mendewasakan pikiran dan memperluas wawasan ku di dunia musik.
Pada sore hari, aku telah siap dengan barang-barangku. Serta Aku tidak lupa bersembahyang untuk meminta tuntunan dan perlindungan Tuhan. Aku sekeluarga melakukan sembahyang bersama.
Kesedihan ku pecah ketika kakek dan nenek ku nangis selama berdoa. Begitu pula bibiku adalah seorang pemangku (orang suci di Bali) mengalami kerauhan (kerasukan) dari para leluhur ku. Hal yang tersirat saat itu adalah “Mereka” mengatakan bahwa “Mereka” akan selalu melindungi dimana pun aku berada.
Tak ada orang yang tahu bahwa saat itu aku menangis dengan segala keharuan itu. Hal-hal yang aku impikan dan aku rasa mustahil, kini bisa ku capai dengan segala usahaku. Walaupun ini adalah awal dari perjuangan ku selanjutnya.
Meninggalkan Rumah
Semua keluarga telah berada di rumah ku untuk menghantar ku ke bandara I Gusti Ngurah Rai. Namun kakek dan nenek tidak ikut menghantar ku, karena saat itu kakek dalam kondisi yang kurang sehat.
Aku mengambil photo bersama kakek dan nenek sebelum aku meninggalkannya. Aku melihat mereka masih menangis. Aku mengatakan kepada mereka “aku akan pulang ke rumah dan melihatmu seperti biasanya”.
Dengan menahan kesedihan, aku harus meninggalkan rumah supaya tidak kekurangan waktu untuk segala urusan di bandara.
Dengan menumpangi mobil kakak sepupu ku, aku menuju bandara dan melihat-melihat suasana di desa ku yang mungkin akan berubah ketika aku pulang nanti.
Sesampainya di bandara, aku memeluk semua anggota keluargaku, melakukan photo bersama, dan saling membuat lelucon untuk melupakan sedihan. Hingga jadwal check in penerbanganku sudah terbuka, aku bergegeas memasuki bagian dalam bandara memalui gerbang Depature C. Terakhir kalinya, aku memeluk erat pacar yang aku tinggalkan. Ini sangat berat untuk kami menjalani hubungan LDR pertama kami dan akan berlangsung lama.
Setelah melakukan check in di loket maskapai, aku merasa lega telah mengetahui kedua koper ku tidak melebihi kapasitas. Setelah itu, aku kembali melihat mereka yang meghantarku dari dalam yang dibatasi kaca. Aku tidak bisa mendengar apapun yang mereka katakan. Kami hanya bisa melambaikan tangan dan memberikan syarat bahwa aku sudah melakukan check ini. Saar itu adalah waktu terakhir ku menatap mereka sebelum aku pergi.
Setelah melewati segala urusan di bandara, aku menelpon pacarku dan mengatakan bahwa aku sudah di ruang tunggu untuk memasuki pesawat.
Beberapa menit berlalu, aku memberitahu kembali pacar ku bahwa aku akan memasuki pesawat dan pergi menuju Brisbane; tempat transit pertama ku.
Denpasar – Brisbane, Brisbane – Vancouver, dan Vancouver – Montreal.
“Sampai jumpa lagi pulau dan gamelan Bali”